Kamis, 5 Agustus 1999 aku membuka mata dan melihat dunia ini, terlahir dalam keluarga yang serba kekurangan. Jujur sangat begitu menyayat hati kenapa kedua orang tuaku tidak memiliki nasib seberuntung orang lain, melahirkan dan merawat ke sembilan anak – anak dengan serba kekurangan, dan kesulitan, penuh drama, penuh peluh dan duka. Aku tidak menginginkan lahir dari keluarga orang kaya, hanya saja aku sedih melihat kedua orang tuaku, yang harus menahan dan memikul rasa dendam dari anak – anaknya yang terluka karena ketidak berdayaan kedua orang tuaku. Seperti kakakku yang membenci bapak sebab dulu bapak tidak memiliki pekerjaan dan tidak menyekolahkan Kakakku. Kini usia kedua orang tuaku sudah sangat begitu senja.
Namun mereka masih harus terus bekerja. Bapak dengan kaki kecilnya, setiap matahari terbangun harus berkendara, terkadang terlihat tangannya gemetar memegang stang motor. Atau terkadang mengigil kedinginan karena menerobos lebatnya hujan. Terkadang aku khawatir jika mengingat bagaimana bapak mengendarai motor bersaing dengan pengendara lain. Apalagi kini wilayah tempat bapak nyapu di tempatkan di tempat yang lumayan ramai kendaraan besar, dan berat. Sering macet juga.
Diusiaku yang sudah 21 tahun ini, aku masih duduk dibangku kuliah dan akan memasuki semester lima. Jujur banyak orang yang ku temui dan mereka sangat gigih dibandingkan aku yang saat ini masih sering terlena oleh medsos. Aku sering melupakan bagaimana keadaan kedua orang tuaku sekarang. Dan aku saat ini tidak tahu mau kemana tujuan hidupku ku bawa. Dan bagaimana aku mewujudkan membeli sebuah rumah yang layak untuk kedua orang tuaku. Dan aku sangat ingin berkumpul dengan bapak, mamak, dan adikku. Aku sangat ingin membahagiakan mereka di dunia dan akhirat. Tapi terkadang ku masih belum bisa mengendalikan diriku, yang dikuasai nafsu untuk terus bersantai ria, tanpa berpikir bagaimana masa depan, dan belum melakukan apa – apa. Di usiaku yang saat ini, sudah dewasa ku ingin mampu mengendalikan diri, dan menghasilkan uang sembari kuliah.
Kisah ini tidak kutuliskan untuk meminta belas kasihan orang lain. Kisah ku ini sebenarnya hanya untuk diriku saja. Untuk mengingatkan diriku bahwa aku sudah dewasa dan harus mulai berusaha bekerja, kuliah, dan melakukan kewajiban dengan sungguh – sungguh dan ikhlas. Dan agar aku ingat supaya tidak menyia-nyiakan nafas yang masih diberikan Allah SWT.
Tinggalkan komentar